..pRivacy..

Menurut wiki en :

Privacy is the ability of an individual or group to seclude information about themselves and thereby reveal themselves selectively. The boundaries and content of what is considered private differs between cultures and individuals, but shares basic common themes. Privacy is sometimes related to anonymity, the wish to remain unnoticed in the public realm. When something is private to a person, it usually means there is something within them that is considered inherently special or personally sensitive. The degree to which private information is exposed therefore depends on how the public will receive this information, which differs between places and over time. Privacy can be seen as an aspect of security β€” one in which trade-offs between the interests of one group and another can become particularly clear.

Klo menurut wiki Indonesia :

Privasi (Bahasa Inggris: privacy) adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan.

Ada artikel bagus tentang Privasi :

PRIVASI Tak Harus Bikin Frustrasi

Privasi itu bukan menutup-nutupi. Privasi adalah sisi pribadi yang dijaga bagi diri sendiri. Sejauh mana privasi ini dijaga dalam rumah tangga?

Perkawinan adalah kontrak sosial yang harus dihadapi dengan kesepakatan bersama. Namun bukan berarti atas nama kontrak sosial itu, kita tak boleh menjadi diri sendiri. Bagian untuk tetap menjadi diri sendiri inilah yang disebut privasi. Privasi bukan berarti menutupi-nutupi sesuatu atau menyimpan misteri dalam perkawinan. Privasi adalah sisi pribadi yang dijaga bagi diri sendiri.

Ketika menikah, ego manusia tetap menuntut adanya batasan bagi orang lain untuk memasuki wilayah pribadinya. Meski terikat oleh ikatan perkawinan, baik istri maupun suami sebenarnya adalah pribadi yang independen. Contoh, mereka berhak mengembangkan dirinya lewat minat-minat pribadi yang ingin terus dilakoninya.

Membiarkan adanya privasi di antara pasangan suami istri malah akan membantu perkembangan individu di kedua belah pihak. Individu yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri akan mampu mengendalikan kehidupannya sebagai seorang pribadi yang bebas. Situasi ini kemudian bisa membawa angin segar dalam kehidupan rumah tangga. Privasi juga membuat individu sehat secara mental sehingga ia akan mampu berkomunikasi dan menjalin hubungan sosial dalam lingkungan sosialnya.

Selain itu, memberikan ruang privasi pada kehidupan perkawinan justru mencerminkan sikap saling percaya satu sama lain. Untuk diketahui, sikap percaya adalah kunci dari perkawinan yang sehat.

KETAHUI WILAYAH PRIBADI

Privasi membutuhkan penyesuaian sekaligus pengertian dari kedua belah pihak. Karena itu, setiap pasangan mesti menentukan apa yang dimaksud dengan wilayah pribadi masing-masing itu. Idealnya, dalam masa penjajakan sebelum perkawinan, masing-masing pihak sudah bisa mendapat gambaran privasi dalam bentuk apa yang diinginkan oleh calon pasangannya untuk menghindari timbulnya kecurigaan kelak dalam perkawinan.

Misal, apa yang dimaksud dalam soal pribadi; soal pendapatan, waktu untuk menekuni hobi, cerita tentang masa lalu atau mantan pacar, hubungan komunikasi dengan pihak lain lewat telepon genggam atau e-mail dan lain-lain. Privasi ini seyogianya menjadi kesepakatan di dalam perkawinan sehingga tak perlu terjadi adanya pelanggaran dalam privasi yang memberi dampak buruk pada perkawinan.

BLAKBLAKAN & JATI DIRI

Terbuka pada pasangan memang diperlukan dalam kehidupan perkawinan. Namun, jika terlalu blakblakan, nyaris tak pernah punya ruang pribadi masing-masing, tampaknya juga tak sehat. Pasalnya, kehilangan ruang pribadi malah membuat konsep diri jadi menurun. Lo, kok, bisa? Coba Anda bayangkan, ketika Anda membutuhkan waktu untuk diri sendiri (me time), misalnya untuk menekuni hobinamun pasangan minta ditemani ke suatu tempat. Anda segan menolak karena tak ingin melukai hati pasangan. Mungkin awal-awalnya Anda bisa menerima. Namun, lama kelamaan, sikap selalu mengalah ini justru membuat Anda frustrasi. Akibatnya, Anda sendiri tidak berkembang karena kehilangan momen-momen untuk “meng-up grade” diri, Anda pun diam-diam menumpuk dendam pada pasangan karena menganggap dirinya sebagai penghambat kebebasan Anda. Pada akhirnya hal ini menjadi penghambat hubungan Anda dengan pasangan.

Untungnya, sebagian besar pasangan tetap menginginkan privasi. Privasi diperlukan untuk mengembangkan dan membuat nyaman dirinya sendiri. Privasi juga mencerminkan adanya sikap saling percaya.

MILIK BERSAMA ATAU PRIVASI?

Mungkin Anda pernah bertengkar lantaran memergoki pasangan tengah asyik membaca SMS di ponsel Anda. Atau Anda kesal karena merasa ditolak ketika pasangan berkata ingin menyendiri. Agar hal-hal ini tidak terjadi, setiap pasangan hendaknya menghormati wilayah pribadi masing-masing.

Handphone

Telepon genggam adalah milik pribadi karena nomor yang terdaftar pada operator adalah milik pribadi juga. Bila Anda penasaran ingin melihat SMS yang masuk atau mengangkat HP nya yang berdering, mintalah izin terlebih dulu.

“Saya mengganggap HP adalah barang pribadi. Makanya saya tidak suka kalau dilihat SMS-nya atau diangkat orang lain. Saya pun tidak pernah melihat isi HP suami. Pernah ada telepon di malam hari berdering di HP suami saya. Saya tanya siapa yang telepon, setelah dijelaskan, saya mengerti. Toh kalau bohong, ketahuan kok dari sikap atau matanya.” (Ervina, 32)

E-mail

Tiap orang sebaiknya tetap punya e-mail pribadi, misalnya untuk menjalin komunikasi dengan pihak lain yang berhubungan dengan karier atau pengembangan pribadi. Dengan e-mail pribadi pun, Anda dapat bergabung dengan milis yang sesuai minat Anda.

“Aku punya dua email pribadi di

rumah. Meskipun yahoo-nya sama, yang satu aku buat atas nama berdua. Gunanya untuk komunikasi dengan keluarga besar karena kami tergabung di milis keluarga atau saling berkirim kabar dengan teman-teman kami berdua. Alamat e-mail lain milik aku pribadi. Jadi aku tidak perlu memberitahukan password-nya karena memang untuk e-mail-e-mail urusan pribadiku. Istriku juga punya e-mail pribadi kok. Kami sudah saling tahu itu.” (Saiful, 31)

Dompet

Hampir semua orang menganggap, dompet adalah wilayah pribadi. Oleh sebab itu, mereka tak rela bila orang lain, termasuk pasangannya, membuka dompet mereka.

“Meski isi uangnya tidak banyak, dompet itu hak pribadi seseorang. Istri saya tahu itu, jadi enggak berani mengorek-ngorek. Saya pun enggak pernah membuka dompet milik istri. Tapi saya juga tidak masalah kalau istri membutuhkan sesuatu dari dompet saya. Asalkan atas seizin saya.” (Andika, 27)

Tabungan

Setiap orang berhak menikmati hasil jerih payahnya sendiri dalam bekerja. Namun, masalah uang sering kali menjadi hal yang sensitif di dalam keluarga. Komunikasikan pada pasangan bahwa Anda ingin mempunyai tabungan pribadi yang diambil dari sebagian penghasilan karena mempunyai satu tujuan, seperti ingin memperdalam hobi lewat pendidikan formal, berlibur ke tempat tujuan yang diidamkan sejak dulu, namun tempatnya tak cocok untuk membawa keluarga, dan lain sebagainya. Tentang jumlah tabungan, sepakati apakah perlu menjadi wilayah privasi atau harus selalu dikomunikasikan pada pasangan.

“Saya wanita bekerja dan berencana mengambil pensiun muda di usia 50 dan menekuni usaha katering. Sekarang, saya punya tabungan pribadi untuk kursus memasak dan membeli peralatan dapur yang akan membantu bisnis saya nanti. Suami saya tahu, kok. Malah dia suka nambahin. Dia juga punya tabungan pribadi untuk membeli tanah di kampung. Tentang jumlahnya, kami sama-sama tak pernah tanya, tuh.” (Wiwiek, 38)

Urusan kantor

Beberapa pasangan menganggap, urusan kantor menjadi wilayah pribadi yang tak perlu diceritakan pada pasangan. Namun, ada pula yang selalu menceritakannya, terutama di masa-masa sulit agar dapat berbagi dengan pasangan. Sepakati bersama apa saja hal-hal di kantor yang dapat dibagi kepada pasangan.

“Sejak menikah, urusan kantor memang sudah menjadi komitmen kami berdua bahwa tak perlu dibawa ke rumah. Kebetulan istri saya juga bekerja. Tapi, tanpa disadari, kadang-kadang obrolan kami di rumah juga nyerempet-nyerempet urusan kantor. Ya enggak apa-apa sih, sepanjang bukan dipaksa cerita.” (Bowo, 32)

Hobi

Punya waktu diri sendiri untuk menekuni minat atau hobi menyehatkan mental dan meningkatkan kemampuan diri. Pada akhirnya juga menyegarkan kehidupan perkawinan. Oleh sebab itu, luangkan waktu melakukannya.

“Suami suka asyik sampai berjam-jam dengan tanamannya di hari Minggu. Saya tidak mau mengganggunya karena saya juga ingin melakukan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti ke salon untuk merawat diri. Meski begitu, kami tetap senang menikmati saat-saat bersama dengan anak-anak.” (Neta, 33)

Santi Hartono.

Narasumber:
Ronny Hanggoro Psi. Msi.,
Psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan (LPT UI) Universitas Indonesia

eMmm jd gmn sih cara kamu dan pasangamu saling menjaga privasi? Boleh donnk sharing2 siapa tau bisa jd ilmu yg bermanfaatπŸ™‚

8 thoughts on “..pRivacy..

  1. Privasi juga boleh dijaga, namun kalo kepercayan yang diberi ga bisa dipegang dan dirusak sampe akhirnya membuat orang yang sebelumnya menjaga privasi jadi seorang possesif, apakah wajar sementara privasi itu sementara di hold sampe si pasangan bisa mengembalikan kepercayaan yg dl telah dia rusak??? *jangan bertindak dengan ego sendiri*

  2. bagus juga isinya…
    kalo menurutku, intinya ya kita saling menghargai dan menghormati aja.
    hargailah/hormati hak/privasi orang lain kalau ingin hak/privasi kita dihargai/dihormati.
    kalo kita misalnya mau liat HP/dompet pasangan kita, ya kita minta izin dia dulu. kalo tidak diizinikan ya sudah.. toh itu hak dia. kalo memang kita tidak percaya dengan pasangan kita, lalu buat apa membuat sebuah hubungan tanpa dilandasi rasa kepercayaan..

    salam,
    isnet

  3. ZakY says:

    Privacy,,

    hm.. kalo aa sih lebih menganggap Privacy itu sebagai hak, jadi lebih dari sekedar sesuatu yang nilainya harus dilindungi atau ditutupi. karena bisa jadi pada masanya ada hal hal yang ga bisa ditutupi misalnya pas udah punya pacar atau udah nikah. sejauh apapun pasangan kita tau isi dompet kita, isi hp kita, tapi kita punya hak sepenuhnya untuk memakai milik kita tersebut. terlepas kita mau diatur sepenuhnya atau kita yang ngatur sendiri mau diapain.

    nah kalo bicara hak, ngga bisa terlepas dari hubungan sosial. kalo kita bicara hak hak orang lain, coba dibalikin ke diri sendiri. misalnya kalo kita udah nikah nanti, pasti suami akan ngatur2 istri dan juga sebaliknya. maka perlu adanya kepekaan terhadap sesama agar orang lain tidak merasa dirugikan atau di injek injek* hak nya.

    Mau tau cara yang paling gampang biar kita ngga sampe ngerugiin orang lain ? Neeh.. aa sedikit bagi ilmu. the key is,, coba perlakukan orang pasangan kita seperti kita memperlakukan diri sendiri. misal kalo kita ngatur ngatur pacar kita harus bertemen sama siapa aja, coba balikin, apa kita mau diatur bgitu, atau apa kita sendiri udah mengatur diri dengan porsi yang sama ?

    Nah… itu namanya bicara KedewasaaN.
    Yah.. manusia kan belajar dai kesalahan, jadi harusnya semakin hari dia semakin pinter Ry,,
    Orang yang dewasa, dia bisa ngerti fungsi diri dia, selalu berfikir dan bertindak berdasarkan akal jernih, ilmu dan logika *semuanya sodara sih ! , ngga hanya berdasarkan hawa nafsunya.

    Allah pasti menolong hambanya yang berusaha ,, Gambate,, !!

  4. Privasi milik semua orang, bukan hanya selebriti saja kan?? makanya gak enak kalo jadi artis, gak aman sama data2 privasi..

    Hampir semua orang menganggap, dompet adalah wilayah pribadi. Oleh sebab itu, mereka tak rela bila orang lain, termasuk pasangannya, membuka dompet mereka.

    dompetnya atau isinya yah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s